Kolaborasi Fakultas Pertanian Unud, Pemerintah, dan Petani Berbuah Panen Bawang Putih Lokal Bali

TABANAN — Kolaborasi tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, serta petani setempat membuahkan panen perdana bawang putih lokal varietas Kayu dan Cicih di Subak Aya, Desa Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Jumat (23/10/2026). Kegiatan yang dihadiri sekitar 150 peserta ini menjadi langkah bersama untuk melestarikan varietas lokal sekaligus memperkuat kemandirian pangan Bali.

Ketua Tim Peneliti Bawang Putih Lokal Bali, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., menjelaskan bahwa Kayu dan Cicih merupakan varietas bawang putih lokal Bali yang telah dibudidayakan sejak 1970-an. Pengembangan keduanya dilakukan melalui program penelitian strategis Adaptasi dan Pengembangan Bawang Putih Lokal untuk menjaga sumber daya genetik lokal serta mendukung ketahanan pangan daerah dan nasional.


Menurut Guru Besar Pertanian Organik Universitas Udayana tersebut, varietas Kayu memiliki keunggulan dalam kualitas, ketahanan, serta kemampuan beradaptasi pada ketinggian 450–550 meter di atas permukaan laut. Varietas yang resmi dilepas pada 2022 ini memiliki ciri umbi berbentuk bulat pipih dengan semburat ungu. Sementara itu, varietas Cicih terus dikembangkan untuk mengoptimalkan potensinya.


Hasil pengembangan varietas Kayu di Subak Aya, lanjut Prof. Kartini, mencapai 8–10 ton per hektare dalam kondisi saat panen. Capaian tersebut menunjukkan peluang pengembangan bawang putih lokal sebagai salah satu sumber pasokan untuk memenuhi kebutuhan Bali dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap impor.


Pada 2026, pengembangan bawang putih di Bali mencakup lahan seluas tujuh hektare yang tersebar di Kabupaten Tabanan dan Buleleng.


“Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal, petani harus lebih kreatif dan inovatif dalam menggarap lahan. Bawang putih lokal adalah kekuatan pangan kita,” tegas Prof. Kartini.


Memadukan Penelitian dan Kearifan Lokal

Pengembangan bawang putih lokal tidak hanya bertumpu pada pemilihan varietas, tetapi juga pada ketepatan waktu tanam dan pengelolaan lahan. Prof. Kartini menjelaskan bahwa penanggalan Bali turut menjadi acuan dalam menentukan waktu tanam.


Sasih Karo, atau bulan kedua dalam penanggalan Bali, dinilai sebagai waktu yang sesuai untuk mulai menanam varietas Kayu dan Cicih. Meski demikian, pelaksanaannya tetap perlu mempertimbangkan kondisi hujan dan ketersediaan air di lahan.


Pemupukan juga menjadi perhatian karena bawang putih memiliki sistem perakaran yang relatif pendek. Menurut Prof. Kartini, kebutuhan pupuk organik dapat mencapai 15 ton per hektare. Penggunaan pupuk organik dan mikroorganisme hayati, termasuk mikoriza, menjadi bagian dari pengelolaan budidaya untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan penyerapan unsur hara.


Perpaduan penelitian, pengalaman petani, dan kearifan lokal tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan bawang putih yang berkelanjutan.


Memperkuat Kerja Sama Lintas Lembaga

Kegiatan panen perdana ini dihadiri Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana; Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, S.P., M.Si., Ph.D.; Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura; Kepala Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Sayuran; serta Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Bali.


Turut hadir Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada; Camat Penebel; Kepala Desa Babahan; Kelian Subak Aya; serta tujuh kelian tempek.


Rangkaian acara diawali dengan registrasi peserta dan panen perdana, dilanjutkan sambutan dari Ketua Tim Peneliti Bawang Putih Lokal Bali, Dekan Fakultas Pertanian Unud, serta Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali. Acara kemudian diisi dengan makan siang, penyerahan kenang-kenangan, foto bersama, dan penutupan.


Panen perdana di Subak Aya menjadi pijakan untuk memperluas pengembangan bawang putih lokal Bali. Melalui komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi yang konsisten antara perguruan tinggi, pemerintah, dan petani, varietas Kayu dan Cicih diharapkan terus lestari serta berkontribusi terhadap kemandirian pangan Bali.