Kolaborasi Fakultas Pertanian Unud, Inbis Unud dan Kopi Kenangan Dorong Potensi Bisnis Kopi Anak Petani Kintamani

TITIKTENGAH.COM – Upaya mendorong lahirnya wirausaha muda di sektor kopi terus diperkuat melalui kolaborasi antara PT Kopi Kenangan bersama Fakultas Pertanian dan Inkubator Bisnis (Inbis) Universitas Udayana. Kolaborasi ini diwujudkan dalam kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Kewirausahaan Kopi Arabika yang dilaksanakan di IKM Sentra Kopi Kintamani, Sabtu (13/12/2025).


Kegiatan ini menyasar anak petani kopi Arabika Kintamani dengan tujuan menggali potensi bisnis kopi secara lebih luas, tidak hanya dari sisi kualitas rasa, tetapi juga dari nilai tambah dan peluang usahanya. Kopi Kintamani yang telah dikenal luas dinilai memiliki kekuatan sebagai identitas Bali sekaligus komoditas unggulan yang berdaya saing.


Acara dibuka dengan sambutan dari Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr. I Made Sarjana, S.P., M.Sc., yang menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, industri, dan masyarakat petani dalam membangun ekosistem kopi yang berkelanjutan.


Sementara itu, Kepala Departemen Legal dan Corporate Affairs PT Kopi Kenangan, Inneke Lestari menyampaikan komitmen PT. Kopi Kenangan dalam mendukung pengembangan kewirausahaan kopi berbasis petani melalui pelatihan dan pendampingan yang aplikatif.


Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua Inkubator Bisnis Universitas Udayana, Dr. drh. Desak Nyoman Dewi Indira, M.Biomed, bersama Dr. Anak Agung Sri Mahyuni, S.E., M.Agb, serta Fauzan Al Jundi, S.S., M.Si.


Kehadiran para akademisi dan praktisi ini memberikan penguatan dari sisi konseptual hingga implementasi bisnis dalam pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari pada 13, 14 dan 16 Desember 2025.


Dalam rangkaian kegiatan, peserta juga mendapatkan inspirasi melalui sesi Success Story yang disampaikan oleh Komang Sukarsana, pemilik Bali Arabica Kintamani Coffee.


Ia membagikan pengalaman membangun usaha kopi dari hulu ke hilir, sekaligus menegaskan bahwa, “kopi Bali bukan sekadar produk, melainkan identitas dan kebanggaan daerah yang harus dikelola secara profesional,” ujarnya.


Salah satu sesi lain adalah curah pendapat (brainstorming) yang bertujuan menggali ide, masukan, pengalaman, serta solusi bisnis dari para peserta secara terbuka.


Dalam sesi ini ditekankan bahwa tujuan utama bukanlah langsung menemukan ide yang sempurna, melainkan mengumpulkan sebanyak mungkin gagasan yang berpotensi dikembangkan menjadi model bisnis kopi. Ide-ide sederhana dari pengalaman lapangan dinilai sangat berharga dan sering kali menjadi cikal bakal inovasi besar.


Selama proses inkubasi, peserta akan mendapatkan tantangan untuk mengembangkan ide bisnis kopi hingga menjadi proposal bisnis yang menarik dan layak dikembangkan. Proposal-proposal tersebut rencananya akan dinilai pada awal Januari 2026, dengan apresiasi berupa pendanaan bagi proposal terbaik.


Melalui program ini, diharapkan lahir generasi wirausaha kopi baru dari Kintamani yang tidak hanya memahami kualitas produk, tetapi juga mampu membaca peluang pasar, membangun merek, dan menciptakan nilai tambah bagi kopi Arabika Kintamani di tingkat nasional maupun global.