Prodi Agribisnis Gelar Bimbingan Teknis Agrowisata Inovatif di Sipadu 551 Angsoka

Program Studi (Prodi) Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Sistem Pertanian Terpadu (Sipadu) 551 Angsoka, Banjar Penarungan, Kabupaten Buleleng, Jumat (26/7/2019). Kegiatan tersebut diikuti 30 orang petani dan dihadiri Kelian Banjar Adan Penarungan, Desa Penarukan I Nyoman Dana untuk menyampaikan ucapan selamat datang kepada rombongan dosen Prodi Agribisnis yang hadir. Nyoman Dana menyatakan terima kasih dan bersyukur petani di wilayahnya memiliki hubungan kerjasama yang baik dengan kalangan perguruan tinggi. Dia berharap komunikasi yang baik dapat meningkatkan kualitas dan produksi pertanian setempat termasuk mengembangkannya sebagai daya tarik agrowisata.

Ucapan Selamat Datang Kelian Banjar Adat Penarungan I Nyoman Dana.

Koordinator Prodi Agribisnis Dr. Ir. I Dewa Putu Oka Suardi, M.Si menyambut baik harapan tuan rumah tersebut. Dijelaskan pengabdian masyarakat dalam bentuk bimbingan teknis (bimtek)Pariwisata Minat Khusus dan Agrowisata Inovatif itu memang sebagai sarana untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dari kalangan dunia kampus ke masyarakat. “Bimtek ini bagian kami dari tugas kami melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi,” tegas pejabat murah senyum itu. Dr. Oka Suardi mengajak masyarakat untuk terbuka menyampaikan masalah yang dihadapi di lapangan, sehingga terjadi proses komunikasi dua arah untuk kepentingan bersama yakni mengembangkan agrowisata sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup petani yang lebih baik.

Pembukaan Pengabdian Masyarakat dengan penyematan “pesona Indonesia” di dada Kelian Banjar Adat Penarukan.

Acara yang dipandu Ketua Panitia Pengabdian Masyarakat Dr. I Gede Setiawan Adi Putra, SP., M.Si. menghadirkan tiga instruktur yang mendalami integrasi sektor pertanian dan agrowisata dari Lab. Subak dan Agrowisata, FP Unud. Guru Besar Pariwisata Unud Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana, M.Sc berada dalam satu panggung dengan anak didiknya Dr. I Ketut Surya Diarta, SP., M.A. dan I Made Sarjana, SP.,M.Sc membedah peluang dan tantangan pengembangan agrowisata di Bali Utara, serta melatih ketrampilan petani agar siap terlibat dalam pengembangan agrowisata.

Prof. Pitana memotivasi petani untuk selalu optimis menyikap berbagai tantangan terkait pengembangan agrowisata. “Jangan takut agrowisata bapak/ ibu  tidak ada yang mengunjungi, sekarang berwisata sudah menjadi gaya hidup. Kalau dulu orang bertanya berapa hektar punya sawah dan berapa banyak padi disimpan di lumbung (gelebeg). Sekarang ciri kesuksesan seseorang diukur kemana saja dia dan keluarganya pernah berwisata,” tegas mantan pejabat eselon I Kemenpar RI tesebut.  Ditambahkan, sebagai persiapan menerima kunjungan wisatawan, petani harus menyiapkan diri untuk bias bersikap ramah dan menjaga kebersihan lingkungan. Intinya, tegas Prof. Pitana, belajar menerapkan nilai-nilai sapta pesona dan sadar wisata sehingga pengunjung yang datang merasa nyaman.

Made Sarjana, M.Sc. memperkuat pendapat Prof. Pitana dengan mengatakan agrowisata adalah fungsi tambahan dalam pengelolaan usaha tani. Jika petani ingin mengundang wisatawan ke usaha taninya maka kualitas pengelolaan usaha taninya lebih dulu dimantapkan. Misalnya, petani ingin menjadikan kebun kopi sebagai atraksi wisata, maka kelola kebun kopi dengan baik agar tanaman kopi tumbuh subur dan berproduksi dengan kualitas baik. Selanjutnya baru ditata lanskapnya sehingga menarik untuk dikunjungi. “Kalau disini tunjukkan pengelolaan sipadu dengan kualitas terbaik, hasil kebun dan ternak yang bagus, baru undang wisatawan untuk berkunjung,” tegas mantan jurnalis itu.

Dr. Surya Diarta memompa semangat petani dengan membeberkan kiat-kiat meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata. Penglingsir Desa Adat Ungasan, Kuta Selatan ini menuturkan berkat pengembangan daya tarik wisata Pantai Melasti, kesejahteraan Krama Adat Ungasan semakin baik. “Secara bertahap tata lingkungan simantri sebagai atraksi yang menarik dikunjungi, bentuk pengelolanya, pasarkan secara massif dan berkesinambungan serta ciptakan brand agar agrowisata di Sipadu 551 semakin melekat diingatan pengunjung,” tegasnya. Kegiatan tersebut ditutup dengan atraksi pembuatan minyak dari bunga matahari oleh Dr. I Gede Setiawan Adi Putra. (sar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *