Banggalah Menjadi Mahasiswa Pertanian

Dekan FP Unud Prof. Dr. Ir. I Nyoman Rai, M.S. membuka PKKMB Fakultas Pertanian Universitas Udayana Tahun 2018

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana Prof. Dr. Ir. I Nyoman Rai, MS mengatakan mahasiswa baru yang diterima di lembaga yang dipimpinnya sebagai mahasiswa pilihan. Alasannya, persaingan masuk ke Fakultas Pertanian di Unud relatif ketat yakni 11:1. “Artininya dari 11 pelamar hanya satu yang diterima maka kalian sangat beruntung. Kalian bukanlah SDM ecek-ecek tetapi manusia terpilih. Banggalah, jadi mahasiswa pertanian,” tutur Prof. Rai saat membuka Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Pertanian Unud di Kampus Bukit Jimbaran, Senin (20/8/2018).

Kegiatan ini mengambil tema “Insan tani muda Udayana yang Harmonis, Solid, Kreatif dan Berdikari” Lebih lanjut, Prof. Rai menambahkan bidang pertanian memiliki peran penting dalam menopang keberlanjutan pembangunan di Indonesia karena pertanian memiliki peran strategis. Berbagai aspek keilmuan berkaitan langsung dengen pertanian seperti lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya. Penerapan program pembangunan seperti penyelamatan lingkungan, ketahanan pangan, pengentasa kemiskinan mesti masuk dari bidang pertanian. “ Pertanian boleh dikatakan aspek riil dari aktivitas ekonomi di masyarakat,” katanya. Hal ini berarti lulusan Fakultas Pertanian memiliki peluang kerja atau peluang bisnis yang luas. Mahasiswa baru FP, katanya, harus mampu memanfaatkan peluang yang terbuka lebar itu nantinya. Syarat utamanya tentu mahasiswa harus mengasah hard skill yakni peningkatan wawasan, ketramian dan prilaku profesionalisme di bidang pertanian tanpa melupakan soft skill yaitu kemampuan komunikasi dan bekerja dalam kelompok. FP Unud, Lanjut Prof. Rai, menjadi tempat yang tepat bagi mahasiswa mengembangkan diri. Secara administrative, seluruh Prodi S1 sudah terakreditasi A, dan fasilitasnya semakin lengkap dan memadai. FP Unud punya lab,tegasnya, kebun percobaan yang bagus. Kebun Percobaan segera akan diumumkan ke masyarakat sebagai destinasi urban-agro-edu wisata. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Dekan I Dr. Ir. Ketut Suamba, MP. Wakil Dekan III Ir. IGM Suwastika, MP, Ketua Prodi Agribisnis Dr. Ir. IDP Oka Suardi, M.Si, Ketua Prodi Arsitektur Lanskap Ir. Cokorda Gede Alit Semarajaya, M.S., kepegawaian dan dosen-dosen. Wakil Dekan I Bidang Akademik Dr. Ketut Suamba menjelaskan tahun 2018 FP Unud menerima 303 mahasiswa baru, dengan rincian Peodi Agribisnis sebanyak 157 mhasiswa, Agroekoteknologi (99), dan arsitektur lanskap (47). (DeSar).

Prodi Agribisnis Menggelar Workshop Internasional Tentang Adopsi Inovasi

Program Studi Agribisnis FP Unud menggelar workshop Internasional pada 25-27 Juli 2018 di Gedung Agrokompleks Kampus Unud, Jalan PB Sudirman Denpasar. Workshop tersebut melibatkan 40 peserta yang diikuti para dosen, dan mahasiswa program pasca sarjana yang berminat. Ketua Panitia Workshop Internasional Dr. IGA Oka Suryawardhani, M.Mgt menjelaskan workshop tersebut sebagai tindaklanjut kerjasama internasional antara Prodi Agribisnis dengan lembaga internasional The Crawford Fund Australia.

Dr. Oka Suryawardhani menjelaskan dalam workshop melibatkan keynote speaker Guru Besar FP Unud Prof. Dr. Ir. I Wayan Windia dan dua pembicara dari Australia yakni Dr. Jay Cummins dan Dr. Geoff Kuehne. Prof. Windia pada kesempatan itu membahas tentang peran subak dalam adopsi inovasi disektor pertanian. Dia menjelaskan subak adalah lembaga yang paling responsive terhadap inovasi, terbukti subak yang semula hanya berdiri untuk mewadahi kelompok masyarakat yang butuh air irigasi, ternyata mengadopsi system sosial masyarakat perdesaan Bali. “Jadilah subak sebagai lembaga petani bernafaskan religious seperti sekarang,” tuturnya. Dalam konteks penerapan teknologi, subak juga mengadopsi inovasi sesuai perkembangan jaman. Pada jaman batu, menggunakan batu mengolah tanah, selanjutnya menggunakan cangkul, bajak dan sekarang menggunakan traktor.

Sementara itu Dr. Jay dan Dr. Geoff menerapkan metode student center learning dalam mengelola kelas workshop sepanjang tiga hari tersebut. Seluruh peserta diminta berpartisipasi aktif dalam membahas kiat difusi inovasi dan dampaknya. Setiap kelas didahului dengan curah pendapat, dirangkum, dan dikaitkan dasar teori dan pengalaman nyata di sejumlah negara berkembang tempat mereka bekerja sama sebelumnya seperti di India dan negara-negara di Benua Afrika. Sejumlah peserta workshop seperti Dr. I Made Sudarma, Dr. Widhiantini, Putu Udayani Wijayani, Prof. Santosa dan lain-lain menyataka metode penyampaian materi ini sangat menarik dan bermanfaat untuk meningkatkan wawasan dan ketrampilan mereka.

Koordinator Prodi Agrisbisnis Dr. Ir. IDP Oka Suardi, M.Si menyatakan workshop tersebut sebagai agenda kerja lembaga yang dipimpinnya untuk meningkatkan kualitas  para dosen dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Wawasan dan kemampuan dosen dalam difusi inovasi harus senantiasa disegarkan sehingga para dosen menggunakan pendekatan paling mutakhir dalam menyampaikan materi pembelajaran di kelas ataupun diluar kelas termasuk penyuluhan kepada petani,” ujar ahli komunikasi pertanian itu.

Kegiatan workshop internasional diisi dengan pembelajaran dikelas dan kunjungan lapang. Kunjungan lapang dilaksanakan di Subak Lodtunduh Desa Singakerta, Kabupaten Gianyar. Pada kunjungan lapang peserta ditugaskan menggali data melalui wawancara dan observasi terkait peluang dan kendala adopsi inovasi yang dihadapi petani. Rombongan peserta workshop diterima Pekaseh Subak Lodtunduh I Ketut Muka, dan Wakilnya I Made Karsa serta pengurus Kelompok Wanita Tani (KWT) Subak Lodtunduh Ni Made Asih (Ketua), dan Ni Nyoman Sumini (Wakil Ketua). Diakhir kegiatan, pengumuman kelulusan dan penyerahan sertifikat kelulusan workshop. Prosesi ini menjadi istimewa karena Pekaseh Subak Lodtunduh I Ketut Muka didaulat menyerahkan sertifikat tersebut kepada peserta workshop. (De-Sar)